FALSAFAH DOSA
FALSAFAH DOSA
Oleh Hz. Mirza Ghulam Ahmad
Lihat tidak ada pengampun dan penyayang yang seperti Allah Taala. Yakinlah sepenuhnya terhadap Allah Taala, sebab Dia dapat mengampuni segenap dosa dan memang memberikan ampunan. Allah Taala berfirman bahwa apabila di seluruh dunia ini tidak ada lagi orang yang berdosa, maka Dia akan ciptakan satu umat lain lagi yang akan melakukan dosa dan Dia akan mengampuni mereka.
Salah satu dari sekian banyak nama Allah adalah Ghafur. Dan satu lagi adalah Rahiim. Ingatlah dosa itu merupakan suatu racun dan mematikan. Akan tetapi tobat dan istighfar merupakan suatu obat penawar racun. Dia dalam Alquran Syarif tertera : “Innallaaha yuhibbul tawwabiina wa yuhibbul mutahahhiriina” (Al Baqaroh : 223). Allah Taala mencintai orang-orang yang bertobat dan yang menginginkan agar diri mereka suci. Allah Taala telah meletakkan suatu hikmah pada segala sesuatu. Jika Adam tidak melakukan dosa lalu bertobat, dan beliau tidak tunduk kepada Allah Taala, maka dari mana beliau akan memperoleh sebutan shaffullaah?
Jika ada manusia yang mendapatkan dirinya seperti baru lahir dari perut ibu, dan tidak menemukan suatu dosa dalam dirinya, maka di dalam dirinya akan timbul rasa takabur, yang merupakan dosa paling besar dari sekalian dosa, dan merupakan dosa setan. Setan beranggapan bahwa dia tidak melakukan suatu dosa, oleh karena itulah dia menjadi setan.
Dosa yang timbul dari manusia, adalah untuk menghancurkan nafs/ego(nya). Tatkala dosa dilakukan oleh manusia, maka dia mengakui keburukannya sendiri. Dan dengan meyakini kelemahannya itu dia akan tunduk kepada Allah Taala.
Seperti halnya dengan dua sayap yang dimiliki lalat, pada satu sayap terdapat racun, sedangkan pada yang lainnya terdapat obat penawar racun. Di dalam hadits dikatakan bahwa apabila di dalam makanan dan minuman kalian jatuh lalat, dan sebelah sayapnya yang mengandung racun masuk ke dalam makanan atau minuman itu, maka sebelum mengeluarkannya celupkan jugalah sayap yang kedua. Sebab itu merupakan obat penangkalnya. Seperti ini jugalah keadaan dosa dan obat yang dimiliki oleh manusia. Jika terjadi dosa, maka bertobatlah. Sebab, tobat merupakan obat penawar racun bagi dosa dan melenyapkan racun dosa.
Tunduklah di hadapan Allah Taala dengan penuh rintihan, supaya kalian dikasihi. Jika tidak ada dosa, maka tidak akan ada kemajuan. Seseorang yang tahu bahwa dirinya melakukan dosa dan memandang dirinya sebagai seorang yang tercela, maka dia akan tunduk ke hadapan Allah Taala. Barulah dia akan dikasihi. Dan dia akan mengalami kemajuan.
Ada tertulis bahwa : “Attaa-ibu minadz-dzanbi kamanllaa dzanbu lahuu” orang yang melakukan tobat dari dosa, seakan-akan dia tidak pernah melakukan dosa. Akan tetapi tobat hendaknya dilakukan dengan hati yang benar. Dan hendaknya dilakukan dengan niat yang jujur, bahwa manusia itu tidak akan pernah lagi melakukan dosa tersebut. Walaupun di belakang hari dosa itu terjadi lagi karena kelemahan yang ada, namun pada waktu bertobat hendaknya manusia melakukan iradah yang kokoh serta niat yang jujur bahwa di masa mendatang dia tidak akan melakukan dosa itu lagi. Jangan ada terselip kecurangan/kelemahan pada niat. Melainkan harus ada iradah yang kokoh, bahwa sampai masuk ke dalam kubur pun dia tidak akan mendekati dosa itu. Barulah tobat tersebut dikabulkan. Akan tetapi Allah Taala menguji hamba-hambaNya, supaya mereka dapat diberi hadiah. Untuk meraih hadiah, adalah mutlak harus lulus dari ujian-ujian. (Malfuzhat, Add Nasir Isyaat, London, . 1984 jld IX, h.38-39)
About this entry
You’re currently reading “FALSAFAH DOSA,” an entry on Hz. Mirza Ghulam Ahmad
- Telah Diterbitkan:
- Juli 27, 2007 / 4:02 am
- Kategori:
- Dosa
- Kaitkata:
1 Komentar
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]