Kecintaan Terhadap Allah

Kecintaan Terhadap Allah

Oleh Hz. Mirza Ghulam Ahmad

Apa artinya cinta terhadap Allah ? Artinya adalah, mendahulukan keridhaan Allah Taala atas kedua orang tua, atas suami/istri, atas anak keturunannya, atas diri sendiri. Ringkasnya, atas segala sesuatu. Di dalam Qur’an Syarif tertera. ”Fadzkurullaaha ka dzikrikum aabaa akum au asyadda dzikraa ” (Al-Baqarah:201). Yakni, Berzikir/ingatlah kepada Allah sebagaimana kalian biasa mengenang bapak-bapak kalian, atau berzikir/ingatlah lebih hebat lagi dari itu. Dan ingatlah [Allah] dengan kecintaan yang mendalam.

Di sini ada hal yang perlu direnungkan dalam-dalam. Allah Taala tidak mengajarkan supaya kalian membiasakan diri menyebut Allah sebagai bapak. Melainkan, ini diajarkan demikian supaya jangan tergelincir seperti yang dialami orang-orang kristen. Dan janganlah panggil Allah sebagai bapak. Dan kalau ada yang mengatakan : ”Berarti kecintaan [terhadap Allah] itu lebih rendah dari kecintaan terhadap bapak, ” maka untuk menangkal kritikan itu disebutkan ”au asyaaddu dzikraa – [atau ingatlah lebih hebat dari itu].” Jika tidak ada kata ”au asyaaddu dzikraa ,” maka kritikan tersebut akan berlaku. Namun, kini masalah itu telah dipecahkan oleh kalimat tersebut ………

Beberapa kata tampil sebagai cobaan. Allah Taala memang sudah memutuskan untuk memberi cobaan kepada orang-orang Nasrani. Oleh sebab itu, di dalam kitab-kitab mereka hal itu sudah menjadi istilah para nabi. Namun, dikarenakan Dia itu Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, oleh sebab iu sejak sebelumnya kata ”Bapak” tersebut telah banyak digunakan. Namun, merupakan kesialan kaum Nasrani, yakni tatkala Almasih menggunakan kata itu maka mereka mengartikanya dalam makna yang sebenarnya, dan mereka telah tergelincir. Padalahl Almasih mengatakan, ” Di dalam kitab-kitab kalian tertulis bahwa kalian adalah ilah.” Beliau ingin menghapus syirik itu. Dan beliau ingin memberikan pemahaman kepada mereka. Namun, orang-orang bodoh itu tidak peduli. Dan walau ada ajaran beliau ini, mereka tetap saja menyatakan diri beliau sebagai anak tuhan.

Orang-orang Yahud juga mengalami cobaan semacam itu. Dikarenakan mereka merupakan kaum yang nyinyir, atas permintaan mereka maka diturunkanlah manna dan salwa. Sebab, itu merupakan pendahuluan dari merebaknya wabah pes. Dikarenakan Allah Taala mengetahui bahwa mereka akan melampaui batas, dan hukuman bagi mereka adalah wabah pes, oleh sebab itu sejak sebelumnya bahan-bahan itu telah diturunkan. (Malfuzhat, Add. Nasir Isyaat, London, 1984, Jld.3 h.188/Mi 25.01.2001).


About this entry