Ketinggian Solidaritas Rasulullah s.a.w.

Ketinggian Solidaritas Rasulullah s.a.w.

Oleh Hz. Mirza Ghulam Ahmad

Tanda pengaruh pada ruh adalah, tatkala seorang rabbani waa’idz (pemberi ingat dari Allah) dan haqqani reformer (pembaharu sejati) berbicara, maka dalam memberikan nasehat dia menganggap para pendengar itu seperti tidak ada. Dia terus saja menyampaikan pesan-pesan/nasehatnya. Pada kondisi demikian di kalbu timbul suatu kelembutan/keluluhan. Sampai-sampai seperti suatu jurang air yang jatuh dari tebing tinggi menuju ke lubuk yang dalam. Ia mencucur tanpa kendali. [Air] itu mengalir dari Allah Taala. Dan dalam aliran [sang pemberi ingat] tersebut merasakan suatu kelezatan dan kenikmatan sedemikian rupa yang tidak dapat saya gambarikan dalam kata-kata.

Jadi, di dalam penjelasan-penjelasan serta ucapan-ucapannya dia menyaksikan wajhullaah (wajah Allah). Dia sedikitpun tidak perduli akan halnya para pendengar yakni apa yang akan mereka katakan setelah mendengar [nasehat tersebut]. Dia mendapatkan kelezatan dari satu arah lain, dan dari dalam sendiri dia merasakan kegembiraan bahwa ”Aku tengah menyampaikan perintah dan pesan majikan dan penguasa-ku.” Kesulitan-kesulitan dan penderitaan yang dialaminya dalam menyampaikan pesan-pesan tersebut pun menimbulkan kelezatan serta kenikmatan bagi dirinya.

Orang-orang yang seperti itu tenggelam dalam solidaritas terhadap umat manusia. Oleh karena itu mereka siang malam senantiasa memikirkan bagaimana supaya orang-orang memasuki jalan ini dan satu kali meneguk minuman dari mata air ini. Solidaritas dan gejolak semangat inilah yang terdapat di dalam diri Junjungan kita yang mulia Nabi Karim s.a.w. dalam kadar yang sangat tinggi. Tidak ada yang dapat memilikinya lebih dari itu.

Demikianlah kondisi solidaritas dan rasa sependeritaan Rasulullah s.a.w. sehingga Allah Taala sendiri yang telah memaparkan :”La’allaka baakhi’un nafska allaa yakuumuu mu’miniin” (Asy-Syu’araa 26:4). Yakni : ”Apakah engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu, sedih karena mereka tidak mau beriman?”

Jika anda tidak dapat memahami sepenuhnya hakikat ayat ini, itu perkara lain. Akan tetapi didalam hati saya hakikat hal itu tak lain seperti darah di dalam tubuh. (Malfuzhat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, Jld.1 hal.403)


About this entry